Assalamu’alaikum wr.wb. Kepada seluruh pembaca maupun penulis blog albina digital yang dirahmati Allah. Blog ini dipindahkan ke alamat forkomalims.co.cc. Postingan & komen2 sebelumnya juga sudah dipindahkan ke alamat tersebut. Mulai saat ini postingan akan dipublish di web Forkom Alims forkomalims.co.cc. Terima kasih atas perhatiannya.
4 Oct
Nikmatnya QL (by Ridha)
Sebenernya banyak buku yang ngebahas mengenai keutamaan QL, pelatihn shalat tahajjud,etc,,,tp kebetuln yang gi ada di tangan Cuma ini (pinjeman pula,hhe,,,) but insya Allah walaupun bukunya kecil,Cuma 120 hlmn, tapi menurut saya cukup bagus coz penulis, Bassam Athiyah, tidak hanya memberikan keterangan mengenai tata cara QL Rasulullah saw, tapi juga mengingatkan kita untuk mewaspadai rayuan syetan yang membuat kita malas untuk meraih nilai2 keutamaan shalat malam. Bila kita sadari, setan justru khawatir bila kita terdidik,terlatih, dan terbina di Sekolah Malam GRATIS yang sudah menjadi tradisi harian para shalafus shalih ini. So, biar meraih keutamaan dan menghindari rayuan syetan, apa aja sih yang mesti kita perhatiin dalam buku Nikmatnya Qiyamul Lail terbitan An-Nadwah ini? Beberapa diantaranya adalah mengenai rahasia keutamaan QL, kebiasaan Nabi terkait QL, dan tips bangun malam untuk QL.
rahasia keutamaan QL
Dalam sebuah hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa shalat paling utama setelah wajib ialah QL. Mengapa? Karena saat-saat malam adalah saat keihklasan, saat doa dikabulkan, dan saat Allah menampakkan diri pada hamba-hambaNya. So, Nabi Muhammad yang sudah dimaksum dan terjamin masuk surga pun tetap asyik dan menikmati malam-malam yang dingin untuk diisi dengan QL hingga kedua kakinya bengkak. Begitupun dengan Umar bin Khattab ra. Yang menyatakan tidak betah hidup di dunia terlalu lama jika tidak ada QL. So, mengapa sih dua orang besar ini sibuk QL dan ikhlas meninggalkan tempat tidur dan meninggalkan pilihan tidur nyenyak sambil meringkuk di bawah selimut yang hangat di atas kasur yang empuk? Kerena rahasia keutamaan ini nih,,,
1. dekat dengan Allah swt.
2. Orang mukmin belajar sabar
3. Orang yang shalat dan sabar itu menjalankan shalat dengan khusyuk, rendah diri, dan mengharap rahmat Allah ta’ala
4. Menumbuhkan spirit ta’awun (kerjasama), Amar Ma’ruf Nahi Munkar
5. Melindungi diri dari kemaksiatan
6. Menguatkan tubuh
Mari kita perhatikan hadits riwayat Al Bukhari, Muslim, An-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad berikut ini.
“Setan mengikat tengkuk leher setiap orang dari kalian jika ia tidur, dengan 3 ikatan. Setan menepuk setiap ikatan dengan berkata (kepada orang yang bersangkutan), ‘Engkau masih punya malam panjang. Karena itu tidurlah!’ Jika ia bangun lalu dzikir kepada Allah, maka 1 ikatan terlepas.Jika ia berwudhu, maka 1 ikatan terlepas. Jika ia shalat maka ikatan terakhir lepas. Lalu pada pagi harinya, ia berada dalam kondisi fit dan berjiwa baik. Jika ia tidak melakukan itu semua (tidak dzikir,wudhu,dan shalat), maka pada pagi hari, ia berjiwa buruk dan malas.”
Ternyata setiap kita tidur, syetan ‘menjaga’ kita agar kita terpedaya dan malas untuk bangun malam. Pantas saja bila setiap segala usaha untuk memasang beker, alarm sebanyak mungkin atau sekeras mungkin kalau kita tidak jujur meniatkan diri dan berazzam untuk menyapa Allah dalam malam-malam yang dingin, maka syetan akan dengan mudah menjalankan tipu dayanya pada diri kita. Nah biar ga terpedaya terus, nyok coba kita tiru kebiasaan Nabi setiap bangun malam.
kebiasaan Nabi terkait QL
berikut ini adalah beberapa kebiasaan nabi yang patut kita cermati terkait QL riwayat Muslim:
- Tidur hingga pertengahan malam, atau beberapa saat sebelum pertengahan malam, atau beberapa saat sesudah pertengahan malam
- Banun, mengusap kantuk dari wajah dengan tangan
- Membaca 10 ayat terakhir surat Al Imran
Sebenernya banyak juga doa yang Nabi ucapkan berdasarkan periwayat lain. Kalo mau tahu lebih lengkap beli jah truz baca bukunya sendiri ya,hehe,,,
Biar lebih afdhol, klo udah bangun langsung nyalain lampu kamar dan LONCAT! ( jangan Cuma sekadar bangun lalu ngulet-ngulet untuk cari beker buat dimatiin ya^—^)
Untuk masalah waktu pelaksanaan QL bisa juga kayak gini nih:
- 1/3 malam terakhir
- Tidur di separo malam, QL di sepertiga malam, dan tidur lagi di 1/6 malam
- Or QL dengan sesuai kondisi tubuh (orang lansia, sakit, mendapat dispensasi dalam hal ini)
Pasti pingin tahu juga kan, sebenernya QL tuh berapa raka’at sih? Dari riwayat Al Bukhari disebutkan Rasul pernah QL 11 dan ada pula yang 13 raka’at.
Nah, yang gak kalah pentingnya adalah shalat witir sebagai penutup shalat malam. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa, “Jika salah seorang dari kalian khawatir tidak bangun di akhir malam, hendaklah ia witir, lalu tidurlah. Sedang orang yang bisa bangun QL hendaklah shalat witir di akhir QLnya, karena bacaan di akhir malam itu dihadiri (malaikat) dan itulah yang lebih utama.” Bahkan saking pentingnya shalat witir ini, “Rasulullah saw. Memerintahkan untuk mengqadha shalat witir bagi yang tidak mengerjakannya” (Athiyah: 2002, 66). Hal ini seperti yang diungkapkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri ra. Bahwa Rasulullah saw. berkata, “Siapa tidur tanpa shalat Witir, atau lupa, hendaklah ia mengerjakannya pada pagi hari atau ketika ingat.” (H. R. Abu Dawud dengan sanad shahih)
tips bangun malam untuk QL
nih beberapa tips untuk yang susah bangun untuk QL (termasuk ngingetin saia juga hohoho,,,)yang diambil dari Ustad Fakhri Fakhrudin—Fajri FM
1. Cari waktu yang paling nyaman untuk qita. Abu Bakar As Shidiq ra. Misalnya memilih melakukannya setelah ba’da isya sebelum tidur. Umar bin Khattab ra. Melakukannya di sepertiga malam akhir. Bahkan, klo mau 15menit sebelum subuh juga gapapa^^.
2. Harusa ada kejujuran tekad (shidqul azimah)
3. Qoilullah (tidur sebentar menjelang dzuhur)
4. Jangan kekenyangan sebelum tidur
5. Jangan bermaksiat di siang harinya
So, mudah2an riviu singkat ini bisa meningkatkan ghirah kita semua untuk mengejar kesempurnaan keutamaan ibadah QL seperti yang dilakukan generasi terdahulu. Mari mentarbiyah diri di Sekolah Malam ini secara Cuma-Cuma. Mau? Di rumah masing-masing jah ya,hhe,,,
4 Oct
Beginilah Jalan Da’wah Mengajarkan Kami (by Ajeng)
Baiti jannati Resume BJDMK
Sabtu-Ahad, 18-19 April 2009 Penulis : M. Lili Nur Aulia
Pukul 23.00/13.50 (kalo gak salah)
BEGINILAH JALAN DA’WAH MENGAJARKAN KAMI
Assalammu’alaikum wr wb
Sebelumnya, afwan jiddan kalau resumenya terlambat karena kebetulan bukunya baru selesai dibaca. Yak, saya komentari bukunya dulu ya. Bukunya bagus! ^^ dapet dari teh Lia ni..
Subhanallah, berisi cerminan hal-hal yg dialami di jalan da’wah. Mulai dari keutamaan amal jama’I, ketsiqohan pada pemimpinnya, suka duka di jalan da’wah, perbedaan pendapat-sifat-karakter-cara pandang, pentingnya menjaga ruhiyah, kekuatan ukhuwah fi sabilillah, hal-hal yg bisa melepaskan kita dari amal jama’I, saling mendoakan, keletihan di jalan da’wah yang panjang, mundur dari da’wah? Mungkinkah?, sampai perjalanan ini tidak boleh terhenti! Allahu akbar!
Bismillaahirrahmaanirrahiim
“Dan hendaklah (ada) di antara kalian umat yang menyeru pada kebaikan, memerintahkan pada kebaikan dan melarang dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS 3 : 104)
Ummat pada ayat di atas tidak hanya didefinisikan sekadar kumpulan orang atau kelompok, tapi mewakili keterpaduan antara kelompok-kelompok atau jama’ah-jama’ah da’wah yang ada untuk mewujudkan cita-cita Islamnya (Tafsir Al-Manar)
Bukankah tujuan akan lebih cepat digapai, pekerjaan lebih ringan, dan hasil lebih optimal, dan tentunya pahala lebih besar akan diperoleh ketika suatu pekerjaan dilakukan berjama’ah bukan?
Mengapa berada di jalan da’wah? Pertanyaan retorik, klasik. Tapi tahukah kita apa jawabannya? Jawaban tepat mengapa kita di jalan da’wah? (Jangan-jangan masih ada yg gak tau lagi…hehe)
Izinkan saya jawab dengan firman Allah swt,
“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab : “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.” (QS 7 : 164)
Ya, karena tanggung jawab dan agar mereka bertakwa.
Abu Bakar ra mengatakan, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya manusia jika mereka melihat kemungkaran dan mereka tidak merubahnya, dikhawatirkan mereka akan diratakan oleh Allah dengan azabNya.” (HR Ahmad dan Abu Daud)
Belum cukupkah ayat dan hadis di atas menjawab keraguan kita berada di jalan da’wah?
Amal jama’i-da’wah.
Hmm, perjalanan panjang ini mutlak memerlukan pemimpin loh. Konsekuensi atas da’wah yang terorganisir dan tertata adalah adanya pemimpin (Qiyad) dalam perjalanan da’wah ini.
Imam Al-Ghazali mengatakan, “Hendaknya suatu perjalanan dipimpin oleh orang yang paling baik akhlaknya, paling lembut dengan teman-temannya, paling mudah terketuk hatinya, dan paling mungkin dimintai persetujuannya untuk urusan penting. Seorang pemimpin dibutuhkan karena pandangannya yang beragam untuk menentukan arah perjalanan dan kemaslahatan perjalanan. Tidak ada keteraturan tanpa kesatuan pengaturan. Tidak ada kerusakan kecuali karena banyaknya pengaturan. Alam ini menjadi teratur karena Pengatur alam semesta ini adalah satu.” (Ihya Ulumiddin, 2/202)
Untuk itu, begitu besar dan pentingnya ketsiqohan dan ketaatan dari junudnya (bala prajurit) pada pemimpinnya sebagai pemandu perjalanan panjang ini. Memahami bahwa pemimpin juga memiliki kekurangan, sama seperti kita. Menjalankan keputusan syuro yang tidak pernah keliru karena mekanisme inilah yang dijabarkan oleh Islam.
Demikianlah, perjalanan ini memerlukan pemimpin. Dan hasil syuro yang telah diputuskan oleh pemimpin di jalan ini, mengikat kita semua untuk kita dukung dan tentunya kita laksanakan.
Dalam jama’ah ini kita berinteraksi secara intens, sudah pasti menemukan banyak sekali karakter dan sifat yang dimiliki oleh masing-masing saudara kita. Perbedaan pendapat, cara pandang, tindakan solutif, terasa kuat di sini. Namun, ketetapan kita untuk tetap di jalan ini, membuat kita semakin toleran dan bisa memahami&menyikapi lebih bijak sifat&karakter saudara kita –selama masih dalam batas aqidah yang benar-. Perselisihan sangat sulit dihindari. Namun dalam jama’ah ini kami belajar membuat perselisihan ini tidak berbuah perpecahan.
Kekuatan jama’ah adalah ruhiyah yang terpelihara.
Perlu diingat, sebaik-baik bekal adalah taqwa. Bekal taqwa termasuk komitmen dengan jama’ah da’wah. Dalam jama’ah da’wah kami belajar menjaga ruhiyah dan ibadah yang tawazun antara dunia & akhirat. Ruhiyah yang terjaga dan terjamin menjadi aset unggulan dari masing-maisng kader da’wah.
Kebersamaan kita dalam jama’ah da’wah terikat 5 hal :
1. Rabithatu al ‘aqidah (ikatan akidah)
Kesamaan imanlah yang menghimpun dan mengikat kami bersama saudara-saudara kami di sini.
2. Rabithatu al-fikrah (ikatan pemikiran)
Kami disatukan oleh kesamaan pemikiran dan cita-cita kami sebagai sarana mencapai keridhaan Allah swt.
3. Rabithatu al-ukhuwah (ikatan persaudaraan)
Tidak ada yang melebihi warna jiwa kami setelah keimanan kepada Allah, kecuali suasana persaudaraan karena Allah swt di jalan ini.
4. Rabithatu at-tanzim (ikatan organisasi)
5. Rabithatu al ‘ahd (ikatan janji)
Di jalan ini kami mengikrarkan janji pada Allah swt dan mungkin janji pada saudara-saudara perjalanan untuk setia dan mendukung perjuangan.
Andai di tengah perjalanan kami harus mengalami terpaan ujian, fitnah, godaan, dan rayuan, kami berharap kelima buhul ikatan kami tidak pernah bisa menghempas kami dari jalan ini.
Indahnya kebersamaan di jalan da’wah.
Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Orang yg bertahan berada di tengah jamaah Muslimin akan menyukai apa saja yang disukai oleh jama’ahnya, dan membenci apa yang dibenci jama’ahnya. Ia akan merasa sakit dengan sesuatu yang menyakitkan jama’ahnya. Dan ia akan merasakan kesenangan dengan sesuatu yang menciptakan kesenangan bagi jama’ahnya…”(Miftaah Daar As Sa’adah, 72)
Sungguh terasa atmosfir keshalihan yang saudara-saudara kami pancarkan sehingga menjadi salah satu penguat azam kita setelah Allah swt untuk istiqomah di jalan ini.
Saling berdoa di antara sepi.
Jama’ah ini memberikan ikatan persaudaraan yang sangat kuat. Meminta kepada Allah untuk kebaikan saudara, sahabat, pemimpin kami di jalan ini, di saat-saat sunyi, adalah hikmah lain yang kami peroleh selama berinteraksi di jalan da’wah. Saudara-saudara kami, yang kami pintakan pertolongan Allah atas mereka, adalah saudara-saudara yg hanya mengikat dan menghimpun kami oleh keimanan dan keislaman mereka. Saling berdoa di antara sepi menjadikan kesejukan yang meringankan langkah.
“Dan dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal shaleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya.” (QS Asy-Syu’ara : 26)
Ternyata, dalam jama’ah ini tak jarang kami menyaksikan saudara-saudara kami yang memutuskan untuk meninggalkan jalan ini karena berbagai ketidaknyamanan atau permasalahan di jalan da’wah ini. Dalam jamaah ini pun tak jarang kami menemukan permasalahan-permasalahan da’wah yang terkadang belum selesai permasalahannya, sudah datang lagi permasalahan yang lain. Menempuh perjalanan ini memang menyimpan lelah. Tidak jarang ada di antara kami yang merasa begitu terkuras waktu, pikiran, dan tenaganya ketika telah terlampau panjang menempuh jalan ini.
Pada akhirnya kami mengerti bahwa keletihan itu akan menjadi beban ketika kami merasakannya sebagai keletihan fisik yang tidak diikuti oleh keyakinan ruhiyah. Sesungguhnya kesempitan ini pasti menyimpan hikmah yang luar biasa. Semua hal ini menguji keikhlasan kami di jalan da’wah. Beberapa alasan yang disebutkan di atas menjadi alasan kami untuk tetap bertahan di sini.
Mundur dari da’wah, mungkinkah???
Jika olahragawan bisa mengalami pensiun karena usianya yg renta dan fisiknya yg melemah. Jika seorang artis harus meninggalkan pentas, karena keterampilan dan keindahan aktingnya telah digerogoti usianya. Tapi para juru da’wah tidak pernah mengenal kamus pensiun dari panggung da’wahnya. Kondisi apapun tidak akan menyebabkan kami ‘uzlah atau pergi meninggalkan jalan ini.
Karakter pejuang da’wah menurut Imam Hasan Al Banna : “Aku bisa menggambarkan karakter seorang mujahid adalah orang yang mempersiapkan perbekalan dan persiapannya, yang selalu memikirkan terhadap da’wah yang ada di setiap sudut jiwanya, dan memenuhi relung hatinya. Ia selalu dalam kondisi berpikir, sangat perhatian untuk berdiri di atas kaki yang siap sedia. Jika diseru ia menjawab atau jika dipanggil ia memenuhi panggilan. Langkahnya, ruhnya, bicaranya, kesungguhannya, permainannya, selalu berada dalam lingkup medan da’wah yang ia persiapkan dirinya untuk itu.”
Terakhir,,
Perjalanan ini tidak boleh terhenti.
Setelah kesulitan melakukan amar ma’ruf nahyul munkar. Setelah menumpahkan segenap upaya, kesabaran dan lipatan kesabaran. Kami harus tetap bertahan meneruskan perjalanan ini. Kami tidak boleh tergelincir akibat orang-orang yang tergelincir di jalan ini.
Guru da’wah, Sayyid Quthb rahimahullah, mengatakan, “Mereka (para penegak da’wah) tidak boleh putus asa dari memperbaiki jiwa dan menanamkan respon baik dari hati orang yang dia’wahi. Meski apapun pengingkaran dan pendustaan yang dihadapi. Meski penolakan dan pembangkangan seperti apapun yang muncul. Jika seratus kali, da’wah belum sampai kepada hati. Mungkin akan sampai pada seratus satu kali. Jika seribu kali, da’wah belum masuk di dalam jiwa. Mungkin akan masuk pada seribu satu kali. Jalan da’wah ini bukanlah perjalanan yang lembut dan mudah. Di sana ada puing-puing kebatilan dan kesesatan. Taqlid (patuh tanpa pengetahuan) dan kebiasaan yang bersemayam dalam hati, yang harus disingkirkan secara perlahan-lahan dengan berbagai cara. Semua lokasi yang sensitif harus disentuh…” (Fi Zilal Al-Quran, 4/2394)
Kata-kata kebaikan itu ibarat menebar benih kebaikan, yang akan tumbuh dimana tempat ia jatuh. Dan jika benih itu telah tumbuh, pohonnya menjadi berbuah dan membawa manfaat yg banyak, dengan izin Allah swt.
“Tidaklah kalian perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik. Akarnya teguh, dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS Ibrahim : 25)
“ad da’watu tasiiru binaa aw bi ghairinaa” (da’wah akan berjalan dengan atau tanpa kami)
Dan tahukah kalian? Setiap jama’ah da’wah (termasuk FORKOM ALIMS) adalah satu dari sekian banyak jama’ah da’wah yang memiliki peran sebagai batu bata yang mengokohkan dan melengkapkan bangunan besar amal jama’I di dunia ini sebagaimana Rasulullah menjadi pelengkap dan penutup para Nabi.
Wallahu a’lam bi showwab
Wassalammu’alaikum wrwb
Baiti jannati Resume BJDMK
Sabtu-Ahad, 18-19 April 2009 Penulis : M. Lili Nur Aulia
Pukul 23.00/13.50 (kalo gak salah)
BEGINILAH JALAN DA’WAH MENGAJARKAN KAMI
Assalammu’alaikum wr wb
Sebelumnya, afwan jiddan kalau resumenya terlambat karena kebetulan bukunya baru selesai dibaca. Yak, saya komentari bukunya dulu ya. Bukunya bagus! ^^ dapet dari teh Lia ni..
Subhanallah, berisi cerminan hal-hal yg dialami di jalan da’wah. Mulai dari keutamaan amal jama’I, ketsiqohan pada pemimpinnya, suka duka di jalan da’wah, perbedaan pendapat-sifat-karakter-cara pandang, pentingnya menjaga ruhiyah, kekuatan ukhuwah fi sabilillah, hal-hal yg bisa melepaskan kita dari amal jama’I, saling mendoakan, keletihan di jalan da’wah yang panjang, mundur dari da’wah? Mungkinkah?, sampai perjalanan ini tidak boleh terhenti! Allahu akbar!
Bismillaahirrahmaanirrahiim
“Dan hendaklah (ada) di antara kalian umat yang menyeru pada kebaikan, memerintahkan pada kebaikan dan melarang dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS 3 : 104)
Ummat pada ayat di atas tidak hanya didefinisikan sekadar kumpulan orang atau kelompok, tapi mewakili keterpaduan antara kelompok-kelompok atau jama’ah-jama’ah da’wah yang ada untuk mewujudkan cita-cita Islamnya (Tafsir Al-Manar)
Bukankah tujuan akan lebih cepat digapai, pekerjaan lebih ringan, dan hasil lebih optimal, dan tentunya pahala lebih besar akan diperoleh ketika suatu pekerjaan dilakukan berjama’ah bukan?
Mengapa berada di jalan da’wah? Pertanyaan retorik, klasik. Tapi tahukah kita apa jawabannya? Jawaban tepat mengapa kita di jalan da’wah? (Jangan-jangan masih ada yg gak tau lagi…hehe)
Izinkan saya jawab dengan firman Allah swt,
“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab : “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.” (QS 7 : 164)
Ya, karena tanggung jawab dan agar mereka bertakwa.
Abu Bakar ra mengatakan, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya manusia jika mereka melihat kemungkaran dan mereka tidak merubahnya, dikhawatirkan mereka akan diratakan oleh Allah dengan azabNya.” (HR Ahmad dan Abu Daud)
Belum cukupkah ayat dan hadis di atas menjawab keraguan kita berada di jalan da’wah?
Amal jama’i-da’wah.
Hmm, perjalanan panjang ini mutlak memerlukan pemimpin loh. Konsekuensi atas da’wah yang terorganisir dan tertata adalah adanya pemimpin (Qiyad) dalam perjalanan da’wah ini.
Imam Al-Ghazali mengatakan, “Hendaknya suatu perjalanan dipimpin oleh orang yang paling baik akhlaknya, paling lembut dengan teman-temannya, paling mudah terketuk hatinya, dan paling mungkin dimintai persetujuannya untuk urusan penting. Seorang pemimpin dibutuhkan karena pandangannya yang beragam untuk menentukan arah perjalanan dan kemaslahatan perjalanan. Tidak ada keteraturan tanpa kesatuan pengaturan. Tidak ada kerusakan kecuali karena banyaknya pengaturan. Alam ini menjadi teratur karena Pengatur alam semesta ini adalah satu.” (Ihya Ulumiddin, 2/202)
Untuk itu, begitu besar dan pentingnya ketsiqohan dan ketaatan dari junudnya (bala prajurit) pada pemimpinnya sebagai pemandu perjalanan panjang ini. Memahami bahwa pemimpin juga memiliki kekurangan, sama seperti kita. Menjalankan keputusan syuro yang tidak pernah keliru karena mekanisme inilah yang dijabarkan oleh Islam.
Demikianlah, perjalanan ini memerlukan pemimpin. Dan hasil syuro yang telah diputuskan oleh pemimpin di jalan ini, mengikat kita semua untuk kita dukung dan tentunya kita laksanakan.
Dalam jama’ah ini kita berinteraksi secara intens, sudah pasti menemukan banyak sekali karakter dan sifat yang dimiliki oleh masing-masing saudara kita. Perbedaan pendapat, cara pandang, tindakan solutif, terasa kuat di sini. Namun, ketetapan kita untuk tetap di jalan ini, membuat kita semakin toleran dan bisa memahami&menyikapi lebih bijak sifat&karakter saudara kita –selama masih dalam batas aqidah yang benar-. Perselisihan sangat sulit dihindari. Namun dalam jama’ah ini kami belajar membuat perselisihan ini tidak berbuah perpecahan.
Kekuatan jama’ah adalah ruhiyah yang terpelihara.
Perlu diingat, sebaik-baik bekal adalah taqwa. Bekal taqwa termasuk komitmen dengan jama’ah da’wah. Dalam jama’ah da’wah kami belajar menjaga ruhiyah dan ibadah yang tawazun antara dunia & akhirat. Ruhiyah yang terjaga dan terjamin menjadi aset unggulan dari masing-maisng kader da’wah.
Kebersamaan kita dalam jama’ah da’wah terikat 5 hal :
1. Rabithatu al ‘aqidah (ikatan akidah)
Kesamaan imanlah yang menghimpun dan mengikat kami bersama saudara-saudara kami di sini.
2. Rabithatu al-fikrah (ikatan pemikiran)
Kami disatukan oleh kesamaan pemikiran dan cita-cita kami sebagai sarana mencapai keridhaan Allah swt.
3. Rabithatu al-ukhuwah (ikatan persaudaraan)
Tidak ada yang melebihi warna jiwa kami setelah keimanan kepada Allah, kecuali suasana persaudaraan karena Allah swt di jalan ini.
4. Rabithatu at-tanzim (ikatan organisasi)
5. Rabithatu al ‘ahd (ikatan janji)
Di jalan ini kami mengikrarkan janji pada Allah swt dan mungkin janji pada saudara-saudara perjalanan untuk setia dan mendukung perjuangan.
Andai di tengah perjalanan kami harus mengalami terpaan ujian, fitnah, godaan, dan rayuan, kami berharap kelima buhul ikatan kami tidak pernah bisa menghempas kami dari jalan ini.
Indahnya kebersamaan di jalan da’wah.
Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Orang yg bertahan berada di tengah jamaah Muslimin akan menyukai apa saja yang disukai oleh jama’ahnya, dan membenci apa yang dibenci jama’ahnya. Ia akan merasa sakit dengan sesuatu yang menyakitkan jama’ahnya. Dan ia akan merasakan kesenangan dengan sesuatu yang menciptakan kesenangan bagi jama’ahnya…”(Miftaah Daar As Sa’adah, 72)
Sungguh terasa atmosfir keshalihan yang saudara-saudara kami pancarkan sehingga menjadi salah satu penguat azam kita setelah Allah swt untuk istiqomah di jalan ini.
Saling berdoa di antara sepi.
Jama’ah ini memberikan ikatan persaudaraan yang sangat kuat. Meminta kepada Allah untuk kebaikan saudara, sahabat, pemimpin kami di jalan ini, di saat-saat sunyi, adalah hikmah lain yang kami peroleh selama berinteraksi di jalan da’wah. Saudara-saudara kami, yang kami pintakan pertolongan Allah atas mereka, adalah saudara-saudara yg hanya mengikat dan menghimpun kami oleh keimanan dan keislaman mereka. Saling berdoa di antara sepi menjadikan kesejukan yang meringankan langkah.
“Dan dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal shaleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya.” (QS Asy-Syu’ara : 26)
Ternyata, dalam jama’ah ini tak jarang kami menyaksikan saudara-saudara kami yang memutuskan untuk meninggalkan jalan ini karena berbagai ketidaknyamanan atau permasalahan di jalan da’wah ini. Dalam jamaah ini pun tak jarang kami menemukan permasalahan-permasalahan da’wah yang terkadang belum selesai permasalahannya, sudah datang lagi permasalahan yang lain. Menempuh perjalanan ini memang menyimpan lelah. Tidak jarang ada di antara kami yang merasa begitu terkuras waktu, pikiran, dan tenaganya ketika telah terlampau panjang menempuh jalan ini.
Pada akhirnya kami mengerti bahwa keletihan itu akan menjadi beban ketika kami merasakannya sebagai keletihan fisik yang tidak diikuti oleh keyakinan ruhiyah. Sesungguhnya kesempitan ini pasti menyimpan hikmah yang luar biasa. Semua hal ini menguji keikhlasan kami di jalan da’wah. Beberapa alasan yang disebutkan di atas menjadi alasan kami untuk tetap bertahan di sini.
Mundur dari da’wah, mungkinkah???
Jika olahragawan bisa mengalami pensiun karena usianya yg renta dan fisiknya yg melemah. Jika seorang artis harus meninggalkan pentas, karena keterampilan dan keindahan aktingnya telah digerogoti usianya. Tapi para juru da’wah tidak pernah mengenal kamus pensiun dari panggung da’wahnya. Kondisi apapun tidak akan menyebabkan kami ‘uzlah atau pergi meninggalkan jalan ini.
Karakter pejuang da’wah menurut Imam Hasan Al Banna : “Aku bisa menggambarkan karakter seorang mujahid adalah orang yang mempersiapkan perbekalan dan persiapannya, yang selalu memikirkan terhadap da’wah yang ada di setiap sudut jiwanya, dan memenuhi relung hatinya. Ia selalu dalam kondisi berpikir, sangat perhatian untuk berdiri di atas kaki yang siap sedia. Jika diseru ia menjawab atau jika dipanggil ia memenuhi panggilan. Langkahnya, ruhnya, bicaranya, kesungguhannya, permainannya, selalu berada dalam lingkup medan da’wah yang ia persiapkan dirinya untuk itu.”
Terakhir,,
Perjalanan ini tidak boleh terhenti.
Setelah kesulitan melakukan amar ma’ruf nahyul munkar. Setelah menumpahkan segenap upaya, kesabaran dan lipatan kesabaran. Kami harus tetap bertahan meneruskan perjalanan ini. Kami tidak boleh tergelincir akibat orang-orang yang tergelincir di jalan ini.
Guru da’wah, Sayyid Quthb rahimahullah, mengatakan, “Mereka (para penegak da’wah) tidak boleh putus asa dari memperbaiki jiwa dan menanamkan respon baik dari hati orang yang dia’wahi. Meski apapun pengingkaran dan pendustaan yang dihadapi. Meski penolakan dan pembangkangan seperti apapun yang muncul. Jika seratus kali, da’wah belum sampai kepada hati. Mungkin akan sampai pada seratus satu kali. Jika seribu kali, da’wah belum masuk di dalam jiwa. Mungkin akan masuk pada seribu satu kali. Jalan da’wah ini bukanlah perjalanan yang lembut dan mudah. Di sana ada puing-puing kebatilan dan kesesatan. Taqlid (patuh tanpa pengetahuan) dan kebiasaan yang bersemayam dalam hati, yang harus disingkirkan secara perlahan-lahan dengan berbagai cara. Semua lokasi yang sensitif harus disentuh…” (Fi Zilal Al-Quran, 4/2394)
Kata-kata kebaikan itu ibarat menebar benih kebaikan, yang akan tumbuh dimana tempat ia jatuh. Dan jika benih itu telah tumbuh, pohonnya menjadi berbuah dan membawa manfaat yg banyak, dengan izin Allah swt.
“Tidaklah kalian perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik. Akarnya teguh, dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS Ibrahim : 25)
“ad da’watu tasiiru binaa aw bi ghairinaa” (da’wah akan berjalan dengan atau tanpa kami)
Dan tahukah kalian? Setiap jama’ah da’wah (termasuk FORKOM ALIMS) adalah satu dari sekian banyak jama’ah da’wah yang memiliki peran sebagai batu bata yang mengokohkan dan melengkapkan bangunan besar amal jama’I di dunia ini sebagaimana Rasulullah menjadi pelengkap dan penutup para Nabi.
Wallahu a’lam bi showwab
Wassalammu’alaikum wrwb
Created,
Rahajeng Aditya
Created,
Rahajeng Aditya
24 Sep
Mencari Pahlawan Indonesia (by Ardhya I)
Penulis : Anis Matta
Penerbit : The Tarbawi Center, 2004

Mencari Pahlawan Indonesia merupakan kumpulan tulisan dari Anis Matta yang pernah dimuat dalam Serial Kepahlawanan di Majalah Tarbawi. Kumpulan tulisan ini bukanlah kumpulan angan-angan tentang sosok seorang yang turun dari langit untuk menjadi juru selamat dari krisis multidimensi yang melanda bangsa ini. Kumpulan tulisan ini justru mengajak kita untuk bersama-sama menelaah nilai-nilai dari seorang pahlawan serta faktor-faktor dibalik kepahlawanan seseorang. Kumpulan tulisan dalam bentuk sebuah buku ini pun mengajak kita untuk menumbuhkan suatu sosok pahlawan dari dalam diri kita, karena setiap diri kita memilki potensi untuk menjadi seorang pahlawan.
Filosofi
Apakah sebenarnya “pahlawan” itu? Banyak dari kita, yang masih memiliki paradigma bahwa seorang pahlawan adalah orang suci yang turun dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Padahal sebenarnya orang-orang yang kita kenal sebagai sesosok pahlawan yang nyata selama ini adalah manusia biasa pula. Manusia biasa, sama seperti kita. Karena, pahlawan sesungguhnya adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Namun, yang tidak kalah penting bagi seorang pahlawan adalah nilai keikhlasan. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa “pahwalawan” dapat menjadi suatu gelar yang diberikan oleh masyarakat. Nilai keikhlasan menjadi penting sebab keikhlasan lah yang akan membawa setiap orang pada hakikat yang besar dan abadi, dimana setap orang akan ditempatkan dengan layak, adil, dan objektif.
Trilogi Dunia Continue reading
20 Sep
Akhwat Excellent “Membentuk Karakter Muslimah Da’iyah” (Yuti lg)
Judul Buku: Akhwat Excellent “Membentuk Karakter Muslimah Da’iyah”
Pengarang: Mazaya Hasyima’
Editor: Didik Hermawan
Penerbit: Smart Media, Solo
Tebal: 292 halaman
Dilihat dari sisi tugas dan kewajibannya, wanita muslimah memiliki persamaan dengan kaum laki-laki. Setiap wanita muslimah harus memiliki kemampuan bermasyarakat dan dapat memberikan pengaruh. Agar bisa terwujud, wanita muslimah harus memiliki karakter-karakter tertentu agar bisa menjadi cahaya bagi sekitarnya.
Buku ini mencoba membahas secara panjang lebar hal-hal yang harus diwujudkan dalam diri seorang muslimah, agar dia menjadi cahaya.
Wanita muslimah harus memiliki etika yang mulia mengikuti akhlak Rasulullah, berlaku jujur, tidak mau menjadi saksi palsu karena perbuatan tersebut diharamkan oleh Allah swt., selalu memberikan nasehat, mengajak berbuat kebaikan, tidak berbohong – menipu – berkhianat, menepati janji, menjauhi kemunafikan, bersikap pemalu, serta mandiri dan tidak meminta-minta.
Wanita muslimah juga seharusnya tidak mencampuri urusan orang lain, tidak membongkar aib orang lain, menjauhi perbuatan riya’ (pamer), adil dalam keputusan, tidak zhalim kepada sesama, adil terhadap orang yang tidak disukai, tidak bersenang-senang di atas duka orang lain, menghindari prasangka buruk, tidak menggunjing dan provokasi, tidak berkata keji dan mencaci, tidak mengolok-olok orang lain, lemah lembut kepada orang lain dan memiliki sifat kasih sayang. Continue reading
20 Sep
Kekuatan Shalat Subuh (by Teh Wardah)
Resume buku oleh Wardah Imaniyyah (FDC)
Judul buku: Kekuatan Shalat Shubuh
Pengarang: Syaikh Nida Abu Ahmad
Penerbit: An Nadwah
Resume:
- Shalat Shubuh merupakan ujian sulit
Tujuan Allah memberikan ujian adalah:
- Memaparkan hujjah agar tidak ada seorang pun yang merasa dizhalimi atau dikurangi haknya oleh Allah pada hari kiamat.
- Membisahkan sesuatu yang baik dengan yang buruk,
- Membedakan anatara orang-orang jujur dengan para pembohong.
- Mengetahui tingkat keimanan dan kejujuran cinta orang beriman.
Ciri khas ujian:
- Sulit
- Tidak berupa hal-hal yang mustahil
Shalat tidak boleh dikerjakan semau kita. Shalat harus didirikan pada waktu yang diinginkan Allah. Allah. Allah memuji orang-orang yang menjaga waktu-waktu shalat dalam firmanNya di QS. Al Ma’arij: 34 karena Shalat pada waktunya merupakan amal perbuatan paling utama di sisi Allah.
Tingkatan orang yang menyia-nyiakan shalat dan ancamannya:
- Kelompok yang tidak menerima shalat sama sekali, diancam dengan Saqar (QS. Al Muddatstsir: 42-43)
- Kelompok yang menerima shalat tapi tidak menunaikannya, diancam degan Ghayya (Jahannam) (QS. Maryam: 59)
- Kelompok yang tidak peduli dengan shalat. Baginya, terserah apakah ia menunaikannya diawal waktu atau menundanya. Diancam dengan Wail (kecelakaan) (QS. Al Ma’un:4-5)
- Keutamaan Shalat Shubuh Continue reading
20 Sep
MINAL AIDIN WAL FAIZIN
Taqoballallohu minna wa minkum…
Jajaran Redaksi Albinadigital dan HRD mengucapkan…
Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan batin….
Semoga Ied kli ini dapat menjadi momentum perubahan bg kita…
28 Aug
Halal Haram Yusuf Qardhawi.. (oleh Qi Yahya)
Mungkin ini adalah dalah satu buku yang banyak jadi referensi dalam pergerakan dakwah kita…
Buku yang membahas salah satu dasar agama kita.. Syariat Halal dan haram…
Sebenarnya buku ini memberikan banyak contoh solutif dalam berbagai kasus, namun karena kebutuhan stiap pembaca berebda2 saya berusaha memaparkan gambaran umum bab 1 buku ini…
Prinsip2 Islam tentang Halal dan Haram
1. Segala sasuatu dasarnya mubah..
Mungkin kita sudah tahu secara umum bahwa untuk hal2 muamalah segala sesuatu pada dasarnya mubah, kecuali yg dilarang.. untuk ibadah segala sasuatu pada dasarnya haram kecuali yg diperintahkan…
Dan Allah telah menciptakan begitu luas hal2 yg halal untuk kita dengan sedikit hal2 yg diharamkan agar ada hikmahnya bwt kita..
2. Menghalalkan dan mengharamkan adalah hak Allah Semata..
Jadi kita tidak ada celah untuk menghalalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah begitu juga sebaliknya… Dan mengharamkan yg halal dan sebaliknya termasuk kedalam syirik dan akan menimbulkan keburukan dan bahaya..
3.Yang halal tidak memerlukan yang haram..
Sesungguhnya Allah itu Mahaadil dengan mengganti segala sesuatu yg haram dengan kebaikan yang halal, misalkan Allah mengganti mengundi anak panah dengan shalat istikharah, mengganti khamr dengan minuman2 yg lebih baik dan bermanfaat..
4. Hal2 yang membawa kepada yang Haram adalah Haram..
Contoh dalam buku ini adalah zina.. zina merupakan hal yang haram maka setiap hal2 yg membawa pelaku menuju zina hukumnya haram pula, misalnya berpacaran,tidak menutup aurat, berkhalwat, pornografi, dll… itulah mengapa dalam Quran ada ayat “Wala Taqrobu zinaa”
5. Bersiasat kepada yang Haram adalah Haram
Jangan sampai kita berniat menyiasati sesuatu hal yg Haram agar menjadi Halal, contohnya ialah kisah dimana Kaum Yahudi menyiasati hari pantang bekerja mereka sehingga akhirnya mereka dikutuk menjadi monyet..
6. Niat yang baik tidak dapat menghalalkan yang haram…
mungkin kita sering mempelajari dalil tentang segala amal yg penting niatnya, namun sebaik2nya niat tidak mampu menghalalkan yang haram, ini menegaskan bahwa tindakan Robin Hood tidak di Halalkan…
7. Hal2 yg syubhat sebaiknya dihindari..
8. Sesuatu yang haram berlaku untuk semua orang
9. Keadaan terpaksa membolehkan yang terlarang
Namun tentunya pembolehan disini bersifat tertentu yang berlaku ketika ketentuan itu gugur, seperti memakan daging babi dibolehkan jika benar2 terdesak dan memakannya pun tidak sampai kenyang namun sekadar untuk bertahan hidup..Namun memakan daging manusia tidak pernah diperbolehkan sedarurat apapun..
Penulis lebih menyarankan untuk menelaah lebih dalam buku ini sesuai minta masing2 dibidang masing2 karena masih luas cakupan buku ini yg belum dipaparkan…
Sekian smoga bermanfaat..
1 Jun
Seri Manajemen Diri : Mengatasi Minder (dari Arum NF)
(Abdullah Gymnastiar)
Kesombongan adalah salah satu penyakit hati, yaitu perasaan ketika diri merasa “lebih” dari orang lain. Karenanya, seseorang bisa menjadi dibenci orang lain. Namun, merasa diri lebih rendah dari orang lain (minder) juga tidaklah baik. Orang yang minder merasa hidupnya menjadi terbebani bahkan dapat mengakibatkan bunuh diri. Berbeda halnya bila kita merasa rendah diri di hadapan Allah SWT. Sifat ini akan menjadi sangat berharga. Minder dapat diakibatkan oleh beberapa faktor, diantaranya, kondisi fisik, keturunan, status sosial, pekerjaan, dan pendidikan.
Merasa fisik tak sempurna adalah hal yang sangat manusiawi karena selain kelebihan, Allah juga memberikan kekurangan kepada manusia. Kekurangan ini adalah karunia Allah agar manusia saling melengkapi. Kekurangan seseorang bisa menjadi ladang amal bagi orang lain. Misalnya, orang yang bertubuh tinggi dengan senang hati mau mengambilkan buku yang tidak terjangkau oleh orang yang bertubuh pendek. Yang tidak wajar adalah ketika kita menyesali kekurangan tersebut. Allah telah mengingatkan, “Sesugguhnya Kami telah menciptakan manusia dangan sebaik-baik bentuk. Kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; bagi mereka pahala yang tak putus-putusnya.”(At-Tin:4-6). Jadi, kita jadikan kekurangan kita sebagai jalan untuk mengerjakan amal-amal shaleh, menuai pahala yang tak putus-putusnya dari Allah SWT. Misalnya, orang yang buta akan terjaga pandangannya. Kebeningan hati dan kejernihan pikiran akan dimudahkan melalui terjaganya pandangan.
Tidak ada alasan untuk merasa rendah diri akibat keadaan orang tua yang memiliki kekurangan, baik dari segi pendidikan, harta, ataupun akhlak mereka, karena orangtualah yang telah melahirkan dan mendidik kita. Ayah Nabi Ibrahim as. adalah seorang pembuat berhala, namun hal itu tidak pernah membuat Ibrahim putus asa, beliau semakin gigih mencari kebenaran sampai rela dipanggang dalam api oleh Raja Namrud. Hingga beliau menempati kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Jadi, sebagai anak, tugas kita untuk membimbing dan menolong orangtua.
Minder karena harta sebetulnya wajar karena sudah fitrah manusia untuk cinta pada harta. Namun, menjadi tidak benar jika kita larut di dalamnya. Bukan harta yang menyebabkan seseorang menjadi mulia. Kekayaan tidak menjamin kehidupan yang aman dan sentosa. Kemuliaan itu sesungguhnya didapat ketika kita bertakwa. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang harta dan rupamu. Namun, Allah Melihat kepada hatimu.”
Sebenarnya, tidak ada pekerjaan yang hina di mata Allah selama tidak menentang syariat. Rasulullah bersabda, “Sungguh, pencari kayu bakar itu lebih baik daripada pengemis.”. Jadi, kita akan tetap mulia selama bekerja untuk kebaikan. Sebagai tukang sapu, kita dapat mulia karena tempat yang kita sapu menjadi bersih. Rasulullah pun bersabda, “Kebersihan itu adalah sebagian tanda dari iman.”
“Ilmu”, pada hakikatnya adalah sesuatu yang bisa membuat kita menjadi lebih dekat dengan Alah SWT. Ilmu yang sebenarnya ialah yang sanggup mengantarkan kita mengenal keagungan-Nya dan meraih cinta-Nya, bukan sebatas mengantarkan kita untuk meraih gelar. Ilmu yang sedikit akan menjadi sangat berarti bila digunakan untuk kebaikan yang nyaris tanpa batas dan bila di baliknya tersimpan akhlak mulia. Alkisah, seorang pengusaha asal Jepang begitu dicintai dan dihormati para karyawannya. Bukan karena gelar yang beliau sandang karena memang hanya lulusan SD, tapi karena akhlaknya yang terpuji dan nyaris tanpa cela sehingga perusahaannya menjadi besar dan amat disegani. Artinya, akhlak terpujilah yang menempatkan kita pada tempat yang tinggi di hati manusia, jauh melampaui ketinggian tingkat sekolah yang pernah kita tekuni.
Dari uraian di atas, dapat diambil hikmah bahwa tidak ada alasan kita untuk minder. Sebaliknya, kita harus percaya diri! Sebab, tidaklah Allah melahirkan seseorang ke dunia melainkan telah Ia bekali dengan segala kelebihan yang dapat menjadi jalan baginya untuk mencapai kemuliaan. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”(Q.S. Ali Imran[3]: 139). Wallahu’alam bishshawab.
22 May
Isti’ab oleh A Andi
Maraji’ :
Judul Asli : Al-Isti’ab fi Hayatid-Da’wah wad-Da’iyah
Judul Terjemahan : Isti’ab. Meningkatkan Kapasitas Rekrutmen Da’wah
Penulis : Fathi Yakan
Dirangkum oleh : Andi Sasmita
Isti’ab (daya tampung) adalah kemampuan seorang da’i untuk menarik objek da’wah (mad’u) dan merekrut mereka dengan segala perbedaan intelektual, kejiwaan, status sosial dan lain sebagainya.
Da’i yang sukses adalah da’i yang mampu masuk dan dapat mempengaruhi setiap manusia, dengan pemikiran dan da’wahnya sekalipun kecenderungan, karakter, dan tingkatan mad’u beragam. Pada dasarnya kemampuan untuk melakukan isti’ab merupakan keahlian yang paling penting dalam kepribadian seorang da’i. Tanpa isti’ab seseorang tidak akan pernah menjadi da’i karena selain kita harus sholeh secara pribadi juga harus sholeh secara sosial.
Tidak dipungkiri seorang da’i memiliki kemampuan yang berbeda dalam pelaksanaan isti’ab. Meski demikian seharusnya seorang da’i dituntut untuk memiliki batas minimal kemampuan isti’ab, terlebih lagi dalam suatu tanzhim (organisasi/jamaah). Jika standar minimal dalam isti’ab ini tidak deipenihi, maka seorang da’i tidak hanya sekadar tidak produktif tetapi juga bisa menjadi penghalang dalam proses produksi dan menyebabkan kemudharatan bagi Islam dan pergerakan Islam.
Berapa banyak orang yang hidup dalam nuansa da’wah dan memahami prinsip-prinsipnya tetapi tidak mau mentransfer nuansa-nuansa dan prinsip-prinsip itu walaupun hanya selangkah di luar lingkungannya.
Tingkatan-tingkatan kemampuan dalam isti’ab diisyaratkan dalam sebuah hadits:
“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang dengannya Allah mengutusku adalah bagaikan hujan yang turun ke bumi. Maka ada bagian bumi yang baik, ia menerima air hujan itu dengan baik lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang banyak. Ada juga bagian bumi yang menahan air, lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia dengan air yang disimpannya, sehingga mereka bisa minum dan menyirami tanaman dari air tersebut. Bagian lainnya adalah padang tandus, ia sama sekali tidak bisa menyimpan air dan juga tidak menumbuhkan apapun. Demikian itu adalah perumpamaan orang yang diberi kepahaman dalam agama, lalu ia dapat memanfaatkan apa yang aku bawa itu, hingga ia senantiasa belajar dan mengatakan apa yang ia pahami. Dan perumpamaan orang yang sama sekali tidak ambil peduli dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku sampaikan” (HR. Bukhari Muslim)
Isti’ab Eksternal
Yang dimaksud isti’ab eksternal adalah penguasaan terhadap orang-orang yang ebrada di luar da’wah, di luar pergerakan, dan di luar organisasi. Menyebarkan da’wah di tengah masyarakat hingga mereka percaya dan terpengaruh, lalu bergabung dan memperjuangkan da’wah adalah sebuah usaha yang susah dan berat, membutuhkan kemampuan dan berbagai tuntutan yang harus dipenuhi. Siapa pun yang memiliki syarat ini, atau bahkan lebih dari itu maka ia akan menjadi da’i yang sukses. Beberapa ketentuan yang harus dipenuhi seorang da’i dalam proses isti’ab adalah.
- Kepahaman tentang agama
Untuk menjadi da’i tentunya seseorang harus memiliki pemahaman yang memadai tentang Islam. Setidaknya ia mampu membedakan antara halal dan haram, kebaikan dan kejahatan. Juga mengetahui berbagai hal yang wajib dan sunnah, mengetahui masalah aqidah dan hukum.
9. (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (Az-Zumar :9).
6. Dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (Saba’ : 6)
18. Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui (Al-Jatsiyah : 18)
2. Teladan yang baik Continue reading
Recent Comments